Sabtu, 27 Juli 2019

Kabar Kabarin

Halloooo
Eh udah lama ya ga ketemu, hehehe. Makasih buat semua readers yang nyempetin waktunya terbuang sia-sia disini :)
Kalau dibaca baca tulisan di blog ini udah lama banget sih ya, tadinya sih pingin ngehapus aja soalnya geli sama tulisan sendiri, tapi sayang :( ya udah deh akhirnya aku pindah blog sebelah aja hehehe. Biar tetep bisa nulis dengan kehidupan yang baru.
Kalau masih mau baca baca tulisanku bisa ke blog terbaru nih yaaa. Udah gitu aja. Sekian dari aku yang hina ini.

bye, see you when I see you. cheer up !



Love,
writer

Jumat, 17 Maret 2017

Aku Tidak Tahu

Aku bertanya kepada angin gila,
Tapi mengapa jawabnya hanyalah daun yang bergoyang?

Aku bertanya kepada bulan,
Tapi mengapa jawabnya hanyalah diam?

Aku bertanya kepada laut biru,
Tapi mengapa jawabnya hanyalah ombak menderu?

Aku bertanya pada langit kelabu?
Tapi mengapa jawabnya hanyalah sendu?

Aku bertanya kepada waktu ,
Tapi mengapa jawabnya hanyalah rindu?

Aku bertanya kepada luka,
Tapi mengapa hanya ada duka diantara tanya?

Aku bertanya
Kasih, kamu dimana?
Tapi mengapa tiada jawabnya?

Aku bertanya
Kasih, sedang apa?
Tapi mengapa tanya itu tak berbalas?

Aku bertanya
Kasih, akankah kita bertemu?
Tapi mengapa yang kulihat hanya janji semu?

Aku bertanya
Kasih, wanita itu siapa?
Tapi mengapa jawabnya hanyalah tawa?

Aku bertanya,
Tapi mengapa?

Sabtu, 30 Juli 2016

Sewindu Tanpamu


“ Kinan !!” Sapa lelaki itu sambil melambaikan kedua tangannya. Aku tersenyum menghampirinya.
“ Apa kabar? Sudah lama kita tak bertemu ya.” Aku mengulurkan tanganku saat sampai di depan lelaki itu. Dia memandangku lalu tertawa lepas. Diraihnya tanganku, kedua matanya berbinar - binar. Tampaknya dia sedang bahagia, batinku.

“ Seharusnya aku yang berkata seperti itu padamu. Aku baik baik saja, kau bisa lihat sendiri. Bagaimana denganmu? Bagaimana dengan sekolahmu? Masih lemah di bidang perhitungan kah?” Dia memutarkan badannya lalu mengangkat sebelah alisnya. Dia tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya yang tersusun rapi itu. Aku menghela nafas. Sebenarnya siapa yang dewasa? Dia atau aku? Sudah lama  aku tak bertemu dengannya, tapi tetap saja tingkahnya seperti anak kecil.

“ Aku? Aku baik baik saja. Ya, baik baik saja dan masih dengan keadaan yang sama.” Ucapku malas. Dia menatapku lama. Aku hanya memalingkan wajahku. Malu. Dia tersenyum, tapi kali ini senyumnya berbeda. Tiba - tiba tangannya bergerak menuju kepalaku. Menepuk bagian atas kepalaku dan mengacak - acak rambutku pelan.

“ Heii, jangan mengacak - acak rambutku! Berapa kali harus kubilang padamu aku benci menyisir ulang rambutku?!” gerutuku sambil menepis tangannya. Dia tertawa lebar. Aku cemberut sembari merapikan kembali rambutku yang berantakan.

“ Hahaha, ternyata kau memang belum berubah ya. Masih sama seperti dulu waktu kita sering bertemu.” Dia mencubit hidungku gemas. Lalu kedua tangannya menangkup pipiku. Kepalanya sedikit dimiringkan ke kanan. Aku menautkan kedua alisku sehingga tampak kerutan di bagian dahi.
“ Pipinya juga sama. Masih seperti bakpao. Hahahaha” ejeknya lagi. Kedua matanya menyipit, rona merah juga merambat hingga telinganya, tangannya memegang perutnya karena terlalu banyak tertawa. Oh astaga, kenapa dia tampak sangat tampan saat tertawa. Apakah ini termasuk cobaan untuk bisa melupakannya? Bagaimana bisa aku melewatinya jika dia kembali seperti ini?

Aku menghela napas lagi. Tawanya mulai terhenti. Dia kembali memandangku, menatap tepat di manik mataku. Tatapannya berubah tajam, seolah - olah sedang mencari sesuatu yang sedang aku sembunyikan. Sudah hampir lima belas menit berlalu, tak ada sepatah kata apapun yang terdengar selain bunyi angin malam. Ah, aku tidak tahan lagi, aku harus mengakhirinya.

“ Apa yang sedang kau cari? Berapa lama kita akan terdiam seperti ini?” tanyaku memecahkan suasana. Dia menghela napasnya.

“ Aku sedang mencari sebuah kejujuran, tapi yang kulihat di matamu hanyalah sebuah kebohongan belaka. Aku tahu, kau tidak benar – benar dalam keadaan baik sekarang. Apakah pertemuan ini menyulitkanmu?” tanyanya pelan. Seperti seorang pemanah yang ahli, pertanyaannya melesat tepat pada sasaran. Aku tertawa miris. Ya, aku sedang tidak baik – baik saja dan itu karenamu, batinku.

“ Itu bukan urusanmu. Urusi saja karir dan kuliahmu disana, jadi orang sukses. Bukankah itu yang kau inginkan dari dulu?” tanyaku.

“ Tapi aku tak menginginkan kau tampak sekalut ini. Aku tak bisa meninggalkanmu saat kau sendiri menyangkal kenyataan ini. Oh ayolah, I know you so well Ki, bukankah kita sudah berteman lama? Aku tahu aku sudah meninggalkanmu selama...”

“ Sewindu.” Sahutku tersenyum miris.

“ Sudah sewindu Yos, bahkan sampai sekarang semua yang ada padaku masih mengingatmu. Miris ya? Aku tahu itu.” ujarku lagi. Dia tersentak kaget. Dia menoleh ke salah satu toko bunga terdekat lalu berjalan ke toko tersebut.

“ Tunggu sebentar.” Ucapnya sebelum masuk ke toko itu. Beberapa menit berlalu, dia kembali datang membawa sebuket bunga di tangannya. Di dalam buket itu tampak bunga anyelir kesukaanku dan beberapa tangkai bunga azalea. Dia berhenti tepat di depanku. Ia menghela napasnya panjang. Diraihnya tanganku.

“ Ini untukmu.”

“ Dalam rangka apa kau memberiku bunga? Ini bukan hari ulang tahunku.”

“ Say it with flowers. Masih ingat tentang kata - kata yang kau ucapkan saat kita masih sering bernyanyi dan bermain bersama?”

“ Aku ingat, tetapi apa maksudmu melakukan semua ini Yos?” tanyaku heran. Lelaki yang kupanggil Yosa itu kembali tersenyum dan memposisikan dirinya di dekat tiang lampu jalanan. Tubuhnya bersandar di tiang itu, wajahnya menengadah ke atas memandangi langit yang kelabu.

“ Aku tahu ini sangat sulit bagimu, begitu juga aku, dan sebagai hadiahnya aku memberikan ini untukmu. Anggap saja ini sebagai permintaan maafku dan pertemuan terakhirku. Anyelir merah muda untuk awal pertemuan kita dan anyelir kuning sebagai perpisahan kita.” Jelasnya. Aku terdiam memandangi sebuket bunga yang sudah berpindah ke tanganku. Astaga, apakah ini perpisahan keduaku dengannya? Perpisahan lagi? Tidak cukupkah ia membuatku sesakit ini? Aku kira dia akan tetap bersamaku disini.

“ Bagaimana jika aku mengasihimu sesederhana ini, dan selamanya akan terus begitu?” aku mengambil setangkai bunga azalea lalu menyerahkannya pada lelaki itu. Ia tersenyum,  kali ini matanya tampak sayu. Tak ada lagi wajah ceria saat awal pertemuan tadi, yang kulihat hanyalah mendung. Aku tak pernah melihatnya tampak sesedih ini sebelumnya.

“ Bukankah sudah ada dia yang bisa menggantikan posisiku sekarang? Aku tahu kau sedang dekat dengan laki – laki lain. Aku juga tahu itu bentuk usahamu melupakan kita, aku hargai itu. Karena aku pun melakukan hal yang sama, walau mungkin dengan cara yang berbeda.” Ujarnya pelan. Aku tersentak kaget. Mendengar ucapannya tadi berhasil membuatku diam tak berkutik. Entah harus mulai darimana aku menjelaskannya. Aku juga tahu ini bukanlah hal yang mudah.

Sudah sewindu sejak kepergiannya aku belajar dewasa, sudah sewindu aku berjuang tanpanya, sudah sewindu pula aku mencoba mengingatnya hanya sebatas kenangan, tetapi tetap saja posisinya takkan terganti. Walaupun pada akhirnya akan ada laki – laki lain yang masuk dalam hidupku, ia akan tetap memiliki satu tempat spesial. Karena dia bisa menjadi sosok ayahku, sahabatku, kakakku, pembimbing belajarku, pacarku, ataupun hanya sekadar teman main. Aku benci keadaan seperti ini. Aku benci setiap pertemuan yang selalu berujung perpisahan, atau mungkin karena aku takut kehilangan. Aku mencoba menatap kedua matanya. Namun sayang yang kudapat hanyalah luka, sama sepertiku.

“ Bagaimana jika  semua usahaku itu gagal? Bagaimana jika aku akhirnya hanya akan menyakiti laki – laki itu? Aku takut Yos, aku takut.” Kataku pelan. Kepalaku tertunduk tak berani menatapnya. Sudah lama aku ingin mengatakan ini padanya. Entah keberanian darimana yang merasukiku hingga aku mampu mengungkapkannya sekarang. Dia menoleh kearahku, menghela napasnya panjang.

“ Kau pasti bisa Ki. Mana Kinan yang selalu suka mencoba hal baru? Mana Kinan yang selalu pantang menyerah? Mana Kinan yang selalu ingin bahagia? Mana Kinan yang...”

“ Mana Yosa yang selalu membantuku belajar matematika? Mana Yosa yang selalu menyemangatiku saat aku ada ujian? Mana Yosa yang selalu suka hujan? Mana Yosa yang selalu suka membuat lagu baru? Mana Yosa yang selalu mengiringiku bernyanyi dengan gitar? Mana Yosa yang selalu bernyanyi untukkku saat malam? Mana Yosa bisa membuatku putus asa dan mencinta pada waktu yang sama? Mana Yos?!” bentakku padanya. Tetesan air mulai turun membasahi pipiku. Entah sudah berapa lama aku membendungnya, akhirnya tetap saja aku menangis. Menetes untuk kesekian kalinya untuk orang yang sama. Rasa sesak itu kembali menjalar. Dia berjalan ke arahku, meraihku dalam dekapannya erat.

“ Untuk apa aku bersamanya jika aku masih berada dalam bayanganmu? Untuk apa aku berusaha melupakanmu jika sifatnya sama sepertimu Yos? Untuk apa aku bersamanya jika aku malah semakin mengingatmu saat berada di dekatnya? Bukankah itu hanya akan membuat aku merasa bersalah padanya?” kataku lirih.  Dia hanya diam seperti biasanya, mengelus bagian belakang kepalaku pelan, membiarkanku menangis hingga lelah dalam pelukannya. Beberapa menit berlalu, tangisku mereda seiring pelukannya yang semakin merenggang.

“ Sekarang hatimu benar – benar patah bukan? Jadi, dongeng kita sudah berakhir. Benar – benar berakhir. Sekarang yang tersisa dari cerita ini adalah kamu, karena aku terlalu hina. Adalah kamu, karena aku hanya akan menghancurkan semuanya. Bangun cerita barumu Ki, aku tahu dengan atau tanpamu semua pasti berbeda.” Dia mengusap sisa tetesan air mata yang masih mengalir di pipiku. Aku tersenyum, kali ini aku mengerti maksud kedatangannya kembali. Ia  ingin menuntaskan semua persoalannya denganku. Lalu memulai kehidupan baru tanpa perlu terbeban masa lalu.

“ Ya, aku benar – benar patah. Sekarang aku paham bagaimana rasanya benar – benar kehilangan dan benar – benar patah. Bersamamu membuat sadar bagaimana cinta datang secara terbiasa, tanpamu membuatku mengerti selama sewindu yang kau ciptakan hanyalah sebuah retakan. Retak itu berbeda dengan patah. Retak itu tak dapat diperbaiki karena ia belum sepenuhnya patah. Ia hanya akan menyisakan bekas - bekas luka yang tak akan hilang sebelum kau benar – benar membuatnya patah. Setelah patah barulah ia bisa diperbaiki dengan yang baru bukan?” kataku sambil tersenyum. Ia ikut tersenyum.

“ Ya tentu, maaf jika selama ini aku sering membuatmu menangis. Pertemuan ini berakhir, terima kasih gadis terkasihku. Tetaplah jadi gadis misterius, gadis yang penuh kejutan di setiap waktunya, sejujurnya itu daya tarikmu. Aku mengasihimu Kinan.” Katanya sambil melangkah menjauh dariku. Langkahnya semakin menghilang di ujung perempatan jalan.

Aku terdiam, mungkin ucapannya memang ada benarnya. Aku harus menulis kembali cerita yang baru di lembar yang baru pula. Tak mungkin aku menulis sebuah cerita baru di kertas yang lusuh. Itu hanya akan membuatku tampak seperti aksara yang tak ingin dibaca orang. Aku tak begitu yakin bisa melewati ini seperti yang sudah kulalui selama sewindu ini, tetapi ketika melihatnya seoptimis itu aku percaya yang dikatakannya adalah kebenaran.


Di bawah sinar purnama yang sempurna, kisahku kembali berawal dari sini. Kehidupan itu berjalan sekali dan terlalu singkat untuk terus mengikuti cerita lalu. Kini biarkan aku dikejar masa depan tanpa terlalu sering bermain di masa lalu. Aku mengasihimu.

Minggu, 10 April 2016

Menyapa Senja


Teruntuk senja yang jingga,

Hai, apa kabar senja? Bukankah kita sudah lama tak bertemu? Oh, aku lupa. Aku lupa bahwa kita selalu bertemu. Bertemu di tempat yang sama namun tak pernah bertegur sapa. Bertemu di waktu yang sama namun hanya memandang mata. Bertemu di rasa yang sama namun tak sanggup berkata.
Tahun lalu, aku masih ingat ketika aku bersamamu senja. Tertawa lepas tanpa alasan. Beradu mulut tanpa takut ada yang terluka. Berdua tanpa peduli apa yang mereka katakan tentang kita. Kita masih sedekat nadi. Masih ada kata kita diantara kata. Masih ada. Masih sebelum akhirnya kita saling melepas. Melepas semua rasa yang kau pendam. Melepas semua. Mungkin yang tersisa adalah aku yang tak pernah mengerti dan kau yang berhenti peduli. Kau yang berpaling padanya dan berkata bahwa takkan ada cinta yang lain lagi.

 Kau yang berkata bahwa cintamu telah terganti. Kau yang merasa bahwa kita tak sehati. Katamu rasa ini mati. Sudah terlalu lama terbalut sendu yang kubuat sendiri. Katamu aku tak pernah mengerti. Tak pernah mengerti bahwa ini bukan ilusi. Ini bukanlah sebuah mimpi. Separuhnya kau benar, separuhnya kau salah. Kau benar, aku tak pernah peduli. Tentang rasamu, tentangmu yang selalu memandangku, tentangmu dan secangkir kopi kesukaanmu. Kau salah,  ingin aku tanyakan padamu, apakah kau sadar bahwa kau tak pernah mengungkapkan rasamu padaku? Apakah ini sepenuhnya salahku? Salahku yang tak pernah sadar kau mengungkapkan lewat lakumu. Kau bukan satu satunya yang terluka. Sadarkah kau di balik gadis bodoh ini tersimpan sosok perempuan yang tak ingin kau sakit? Sadarkah kau bahwa dalam diriku yang mungkin tak pernah berarti apapun bagimu ini ada seorang perempuan yang sedang menjaga cintanya hanya untukmu satu-satunya? Sadarkah kau bahwa dalam rumitnya sikapku, tersembunyi seorang perempuan yang ingin kau seperhatian dulu lagi. Sadarkah kau, aku sendiri menahan nyeri. Berulang kulafal rasa sesaknya sama. Sadar pada akhirnya aku akan sendiri.

Tapi lihat dan dengarlah senja.
Jika kau sekarang berpikir bahwa kau mengagumiku, mungkin jawabannya iya. Jika kau berpikir bahwa kau memujaku, mungkin jawabannya iya. Dan jika kau berpikir bahwa rasa kagummu itu berubah menjadi cinta, maka jawabannya tidak.
Kau tidak benar benar mencintaiku senja. Apakah itu uangku, nama, dan gengsi yang kau dapatkan karena mendapatkanku, ataukah rupaku, aku tidak tahu, tetapi yang jelas, itu bukan cinta.
Karena, jika kau cinta kepadaku, maka kau akan berusaha begitu keras untuk membuat yang kau cintai berpaling kepadamu, tidak berjalan ke arah orang lain. Berusaha begitu keras sehingga rasanya dirimu hampir gila. Hingga terkadang, ada saatnya kau ingin lari ke pelukan orang lain saja. Kau lelah mempertahankan segalanya ketika perlahan lahan, tetapi pasti, segalanya hancur di depan matamu tanpa kau tahu mengapa. Dan, ketika kau pergi ke pelukan orang lain, kau tahu segalanya tidak mungkin bisa jika hanya cinta selewat dan main main.
Tetapi, ketika kau gagal mempertahankan cintamu, dan cintamu itu pergi, kau akan memperhatikannya dari jauh, sambil mengutuk keras dalam hati. Kesal dan amarah ada padamu. Tetapi, jika cintamu berkata kepadamu bahwa ia menginginkan orang lain, kau hanya akan mengangguk, kau berharap cintamu kan bahagia bersama orang lain itu. Dan kau takkan memaksanya kembali ke dalam pelukanmu lagi walau hatimu berkata tidak.

Dari perempuan ,

yang selalu berubah menjadi sedingin es pada senja.

Rabu, 14 Oktober 2015

Analogi Rasa



Kali ini kau merangkai kata. kau menggores pena. kau biarkan tanganmu menari dalam dimensi cerita. Pernahkah kau tanyakan pada hati. Apa itu esensi ? Kau menulis karya atau sekedar menuangkan imajinasi semata? Kau menulis karena hatimu berbisik atau hanya untuk membuatmu menarik? Kau menulis mengutamakan makna atau ingin membuang waktumu sia sia?

Pernahkah hatimu bertanya, Apa itu rasa? Aku menyebutnya dengan rasa tak bernama. Mulai dari hal sederhana. Bukan satu cerita, bukan satu paragraf, bukan satu kalimat. Tapi kata. Bagaimana rasa dari sebuah kata? Kita lemah dengan kata. Kata kita diantara tanya. Barangkali, rasa itu seperti menulis cerita. Kau berani biarkan jarimu merangkai kata. Kau biarkan mulutmu ungkapkan rasa. Kau biarkan hatimu berimajinasi untuk sementara.

Tanpa menulis imajinasimu terkikis. Tanpa ditulis rasa itu hilang terkikis. Seperti diam diam mencinta namun mendamba. Rasamu hanya akan berjalan di tempatnya semula. Dengan menulis gelisahmu kian menyapa. Pencerca dimana mana. Seperti mencintai tanpa dihargai. Rasamu hanya akan berakhir di relung elegi.

Seringkali kudengar, orang berkata," Tulisanmu buruk.". Katanya itu tempa. Bagiku itu hanya pengiring luka. Di sudut ruang, aku ingin menulis. Lupakan semua luka usang. Enyahkan sudut hati yang bimbang. Menulis, menulis, dan menulis. Tak ingat bila hati terkikis. Pernahkah kau tanyakan pada hati, untuk siapa kau menulis? Mungkin hati akan menjawab kau menulis karena orang. Pada akhirnya kita akan tahu kapan diri senang saat hati dan tangan berpadu. pada akhirnya kita yang paling tahu kapan jari menari dengan hati menggebu.

Senin, 27 April 2015

Suatu Petang di Kotaku


Ini tentang kita. Kita yang dulu pernah bertemu dalam nuansa hening di kotaku. Segala pertemuan kita berawal dari sebuah tatap. Tatapan mata yang tanpa arti, tanpa rasa, dan tanpa apapun. Tatapanmu hampa. Beranjak pada sebuah perkenalan sederhana. Kau memulai memperkenalkan dirimu secara perlahan dan aku sendiri hanya bisa terdiam. Aku terpukau pada awal pertemuan kita. Dengan segala prestasi yang melekat erat pada pundakmu dibingkai dengan wajah tampanmu itu, ah, kau bisa membuatku luluh begitu cepat.
Dan hari itu juga adalah pertemuan kita yang  pertama dan terakhir. Karena setelah pertemuan itu kau tak lagi ada. Dan kau takkan lagi ada. Sudah berulang kali aku mencoba mencarimu di tempat yang sama, di kota yang sama, dan pada jam yang sama tapi tak ada satupun yang berhasil. Sering kali aku salah, kukira orang yang kulihat sekilas itu kamu tapi nyatanya itu hanya imajinasiku. Aku terlalu sering memikirkanmu. Aku tak dapat menemukanmu. Dan aku menyerah. Aku takkan lagi mencarimu, mungkin kita yang dulu bertemu di kota ini hanya untuk sekedar bertukar cerita atau mungkin memang aku yang terlalu banyak berharap darimu. Tapi aku masih berada dalam sebuah ketidakpastian. Aku masih bersama bayang bayangmu yang semu. Aku mencintaimu. Entah kenapa.
Hari ini di kotaku...
Entah kenapa sekarang kau berada disampingku tanpa perlu aku mencarimu lagi. Suasana hujan yang sama dan hari yang sama kembali mengingatkanku saat pertemuan pertama kita. Bau tanah  menambah suasana nyaman untuk menikmati anugerah Tuhan yang tercurah lewat butiran- butiran  air dari langit. Ini satu tahun pertemuan kita. Percaya atau tidak aku masih menunggumu selama ini. Semua masih sama, kau masih tampak seperti yang dulu. Pria tampan berselimutkan prestasi hebatmu. Hanya saja, aku merasakan ada yang berbeda. Entah di bagian mana, aku hanya merasakan tatapan itu tak lagi seperti dulu. Rasanya posisi kita bukan lagi menjadi seorang teman tetapi terasa seperti seorang senior yang sedang mendidik juniornya. Kau hanya datang memberikan secarik kertas, menjelaskan semua isi kertas, dan kemudian terdiam disampingku. Aku tak tahu apa yang sedang kau lakukan. Jika bibr ini mampu bertanya, aku akan bertanya padamu apa maksud semua kedatanganmu kali ini.
Seandainya saja kau itu seperti hujan, selalu kurindu kedatangannya, yang selalu setia menemaniku saat awan mendung mulai beranjak pergi. Kau menahanku untuk tetap tinggal di kota ini dengan bulir bulir air yang turun. Butiran air yang berisikan semangat, canda tawa, kepercayaan, kisah sedih dan bahkan kisah yang salah diantara kita. Sikapmu seperti aliran air hujan yang terkadang jatuh perlahan tapi pasti. Datang perlahan membawa rasa dari langit lalu mengalir deras ke segala arah untuk mengepungku. Membiarkanku untuk menunggu walau berapa pun jarak dan waktu  yang akan aku lewati. Ketika hujan pergi, ia tak pernah lupa menaruhkan busur perjanjiannya dengan tujuh warna berbeda tetapi punya satu keindahan yang seharusnya tak boleh dilewatkan. Bukankah itu ilustrasi yang terlalu tinggi? Bagaimana dengan kenyataan yang sebenarnya terjadi? nyatanya semua itu tak pernah terjadi. Kau datang secepat cahaya kilat dan pergi meninggalkan suara menggelegarmu itu. Meninggalkan perubahan perubahan yang membuatku sempat terluka.
Aku kembali rapuh saat hujan hari ini mereda. Itu artinya pertemuan yang dingin ini akan segera berakhir. Entah apa yang kurasakan hari ini. Aku senang melihatmu kembali tapi disisi lain aku merasa kamu bukan lagi seorang teman yang dulu kukenal. Sikapmu yang dulunya sangat humble, peduli, kini berubah menjadi pendiam dan cuek. Aku harap ini hanya sebuah drama, hanya sebuah rekayasa belaka. Aku takut, ya aku takut jika kau memang benar benar tak mengharapkan pertemuan ini terjadi. Jika memang jarak yang menyusahkan pertemuan ini, kau sendiri pernah berkata jarak itu tak ada artinya, dia cuma sebatas nama pohon yang takkan pernah bisa memisahkan hubungan seseorang dengan yang lainnya.
Tapi tak bisa aku pungkiri, ada rindu yang diam diam tertanam ketika ragamu tak mampu kurengkuh, ketika kehadiranmu tak selalu aku rasakan. Apa yang menyenangkan dalam jarak sejauh ini? Kita seperti gedung gedung tinggi di Jakarta, saling berhadapan tapi enggan bersentuhan. Sejauh ini aku masih bisa bertahan, entah mempertahankan apa. Kulakukan semua seakan baik baik saja, seakan aku tak terluka, seakan tak ada air mata. Sudah saatnya. Aku dan kamu kembali mengakhiri pertemuan kita, entah kapan kita bisa bertemu kembali. Suatu petang di batas kotaku, kita berpisah ( lagi).

Kamis, 23 April 2015

Seribu Origami


“ Sama halnya dengan seribu origami yang mewujudkan satu harapan, seribu rangkaian jala mimpi mewujudkan satu ide brilian. ”
Pernah membuat origami burung ? Pernah mencoba membuatnya sampai berjumlah seribu origami? Mungkin sebelum kita membuatnya kita punya suatu hal yang sudah lama kita inginkan. Harapan. Sebuah harapan yang sudah sejak lama tertanam dalam jati diri kita namun belum sempat terwujud. Dan dari semua harapan itulah yang membuat kita memiliki niat yang besar untuk berhasil membuat seribu origami dengan kedua tangan kita. Kedua tangan yang terus mencoba melipat sisi sisi kertas dan berakhir sempurna. Seribu origami burung telah selesai sempurna.
Bukankah sangat menyenangkan dan melegakan bisa membuat seribu origami secara sempurna? Rasa itu pasti hadir saat kita berhasil membuatnya. Namun pernahkah kalian merasa kecewa saat kalian telah membuat seribu origami sempurna namun satu harapan yang seharusnya terwujud itu takkan pernah bisa terwujud? Aku pernah. Aku pernah membuatnya. Aku pernah menaruh satu harapan didalamnya. Seribu origami burung yang sempurna namun takkan lagi sempurna. Terlalu polos memang untuk sekedar percaya pada sebuah mitos. Tapi dibalik satu harapan yang tak terwujud ada banyak pelajaran yang bisa diambil untuk kehidupan kita ke depannya. Ya, walau sempat kecewa karena gagal mendapatkan apa yang aku mau, setidaknya aku masih punya satu hal yang dapat aku bagikan dengan kalian.
Dan sekarang waktunya memutar ulang proses pembuatannya. Sedikit flashback tapi tak berarti gagal move on. Seperti dalam sebuah film, ada satu kata mutiara yang bilang begini “ ideologi itu damai, tapi sejarah itu kejam.”. bukankah itu benar terjadi? Dalam  sejarah kehidupan kita sendiri? Sejarah itu menceritakan waktu lampau. Dan waktu lampau itu sendiri, dimulai dari segala siksaan penjajah, kerja paksa, sampai sekarang mungkin kita tak merasa dijajah oleh penjajah karena kita sudah merdeka. Tapi apakah sebenarnya kita sudah benar benar merdeka? Kau tahu jawabnya? Kita masih dijajah diri kita sendiri. Dan aku rasa flashback ini sudah sangat jauh dan sangat berbasa basi bila aku tetap melanjutkan flashback itu dengan kata kata puitis. Karena jujur saja, aku tak pandai dalam merangkai kata indah seperti seorang penyair. Ya, cukup kata sederhana tapi bermakna.
Ini kesanku tentang origami. Sebuah kertas lipat biasa yang masih bersih tanpa noda seolah menggambarkan sewaktu kita kecil, kita masih anak anak dengan muka polos belum mengerti apa itu harapan, apa itu cita cita, apa itu masa depan, dan apa itu kecewa. Sampai suatu saat kertas itu mulai dilipat untuk membentuk suatu kerangka awal origami. Kita mulai mengerti tentang sebuah asa dan kita mulai menuliskannya dalam setiap lembar kehidupan kita. Setelah itu, kertas yang tadinya hanya sebuah kerangka awal kini dibentuk sedemikian rupa menyerupai seekor burung yang akan terbang, semakin rumit dan semakin sulit. Banyak diantara kita yang sering gagal dan mengeluh pada proses ini. Berapa puluh lembar yang kalian buang karena gagal mencoba proses ini? Atau mungkin kalian malah memutuskan untuk tidak melanjutkan proses ini karena kalian merasa terlalu sulit? Sama seperti kehidupan kita sekarang. Ini adalah proses utama kita untuk mencapai harapan kita, mencapai suatu kata sempurna. Terus mencoba sampai berhasil, terus terus dan terus. Dan sampai akhirnya sebuah origami terselesaikan dengan sempurna. Harapan untuk mendapatkan hasil terbaik dari usaha kita terwujud.
Itu baru satu origami, bagaimana dengan sembilan ratus sembilan puluh sembilan origami burung lainnya? Ini yang namanya tantangan. Tebarkan jala mimpimu, tangkaplah berbagai ide brilian untuk menyelesaikannya. Seribu origami mengajarkanku kalau sebenarnya sebuah harapan dikatakan terwujud dengan sempurna dilihat dari sebuah perjuangan dibalik keberhasilannya. Seberapa jauh mau berpikir, itu pula yang akan tercapai. So, what you see is what you get. Explode your self! Think and create your future. 

Rabu, 18 Februari 2015

Mengagumimu Dalam Diamku

Hati tidak memilih. Hati dipilih. Karena hati tidak perlu memilih, ia selalu tahu kemana harus berlabuh.
Apa kabar senja? Disini aku masih merindukanmu. Disini aku masih menanti kehadiranmu. Dan disini aku masih ditemani kawanmu. Sebuah gitar dan segelas coklat hangat. Rasanya bukan hal yang aneh lagi bagiku menikmati suasana seperti ini. Memegang sebuah gitar dan mulai bersenandung. Nada nada yang terurai indah dari petikan dawai menambah suasana nyaman di ruangan ini. Namun kali ini aku merasakan hal yang berbeda. Seseorang berwajah tampan tersenyum simpul karena melihatku sedang asyik memainkan alat musik yang memang sudah sangat akrab denganku. Dia duduk tepat di depanku. Memandangiku seolah aku adalah sebuah lukisan yang sedang dipamerkan dalam sebuah festival lukisan. Kemudian kembali tersenyum. Dan aku sendiri, ah aku terhanyut dalam pesonanya.
Detik itu, menit itu, hari itu adalah awal dimana aku mulai mengagumimu dalam diamku. Entah mulai darimana aku harus menjelaskannya padamu, tapi ini yang sudah terjadi. Rasa kagum itu masih terpendam sampai sekarang. Aku hanya tak ingin kau tahu tentang rasaku. Karena jikalau kau sudah tahu tentangku, apa yang akan kau lakukan? Menjauhiku seperti orang orang yang lain? Atau tetap menjalani hari seperti biasa walau rasa canggung itu melekat erat dalam dirimu?. Ah, aku terlalu takut untuk itu. Dalam diamku, bukan berarti aku tak menyayangimu sepenuhnya. Dalam diamku, bukan berarti aku tak peduli bila ada seseorang selain aku yang juga sangat menyayangimu. Dalam diamku, aku hanya ingin menjadi pemuja rahasiamu yang selalu dapat menikmati pesonamu sampai masa lelahku. Dan dalam diamku, aku masih terngiang ngiang satu pertanyaan, apakah hatiku telah dipilih olehmu?

Karena hatiku masih menunggumu untuk memilihku. Tapi jangan paksakan untuk memilihku jika ada yang memaksamu melakukan hal itu. Dua hati dapat saling memilih dan dipilih dengan sendirinya. It comes naturally. Tanpa berkata “hatiku telah memilihmu”, hatimu sudah dipilih olehnya. Bergitu pula sebaliknya. Hati tidak memilih. Hati dipilih. Karena hati tidak perlu memilih, ia selalu tahu kemana harus berlabuh. Dan aku tetap mengagumimu dari jauh dalam diamku.

Selasa, 17 Februari 2015

Hujan


Dan hujan masih setia kembali
menarikan rintik rintik nyeri
bersama kidung irama sunyi


dan aku
masih seperti tadi
menyudut sepi diantara gelas gelas kopi


aku kira
dipetang tak hujan
sebab kurindu awan
berpayung lembayung


aku kira
dipetang tak hujan
sebab ruangku usang
kurindu senja bukan hujan


aku kira
dipetang tak hujan
sebab aku bosan
kurindu siluet kekuningan


Dan hujan
masih setia kembali
dan aku masih seperti tadi
menyudut sepi diantara gelas gelas kopi

Sabtu, 31 Januari 2015

Tentang Rasa Tak Bernama


Malam ini aku kembali ditemani oleh butiran butiran air hujan yang sejak tadi siang tak kunjung mereda. Entah kenapa, pikiranku mulai melayang ketika melihat secangkir kopi yang berada tak jauh dari jarak pandangku. Pikiranku mulai kembali mengingat rasa tak bernama itu. Rasa yang selalu menghantuiku ketika aku berada di tengah tengah keheningan malam. Rasa yang selalu datang dan menghilang tanpa alasan. Rasa yang selalu berhasil membawaku terbang ke bulan dan menjatuhkanku di jurang yang paling dalam. Rasa yang membuatku bertahan. Rasa itu selalu mengingatkanku pada beberapa malaikat yang terkadang berada sangat dekat, dan lebih dekat seakan ada lem yang menempel disetiap sudutnya.
Ah, ini hanyalah sebuah rasa. Rasa yang tak pernah berguna. Rasa itu hanyalah sebuah ilusi. Hanyalah sebuah  I L U S I. Ilusi yang tak pernah ada habisnya. Seberapa lama rasa ini akan terus menghantui? Seberapa lama rasa ini akan terus menyerang seluruh anggota badanku seperti layaknya sebuah penyakit ganas yang paling mematikan dan belum ada penawarnya? Apakah ia akan berakhir jika aku sudah tiada? Selama itukah? Sampai detik ini, menit ini pun aku masih bertahan. Bertahan untuk melawan rasa itu. Rasa yang seharusnya tak boleh terjadi. Dan aku harus bisa menyingkirkannya dari dalam diri ini. Tapi apa? Apa yang aku bisa? Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Sementara rasa itu sendiri semakin mengakar dalam jantung. Sampai sampai detak jantung pun semakin bergerak cepat saat rasa itu mulai datang. Dan ketika itu terjadi, aku hanya bisa diam seribu bahasa. Mulut seakan terkunci dengan sepuluh ribu gembok yang kuncinya sudah terbuang entah kemana. Sulit sekali untuk mengatakan kalau aku tak menginginkan rasa itu hadir.
Bodoh ! ya, memang semua orang yang memiliki rasa itu akan tampak terlihat seperti orang bodoh. Melakukan semua hal diluar kendali mereka. Ya, aku tahu jika aku diam maka rasa itu akan semakin menyerangku dengan bakteri bakterinya itu. Tetapi jika aku berusaha melawannya itu hanya akan menyakiti diriku sendiri. Ah,konflik lagi..

Biarkan saja rasa itu menggerogoti tubuhku, biarkan saja aku menderita karna keputusanku sendiri. Jika itu lebih baik, biarkan saja rasa itu terbawa dalam hembusan nafas disela sela hidupku. Aku hanya ingin tertidur lelap di malam yang dingin ini. Bermimpi melihat bulan dan bintang bintang yang menerangi langit malam. Dan berharap ada satu kesatria yang berhati mulia berkorban demi sebuah rasa tak bernama.

Selasa, 25 November 2014

Tentang Setia

 
selalu ada cerita tersimpan di hatiku, tentang kau dan hujan...

“ Chelsea ayo masuk!” teriakku memanggil Chelsea saat rintik hujan perlahan turun membasahi halaman rumah. Chelsea hanya memandangiku lalu berlari ke sudut halaman rumah. Ia duduk terdiam memandangi langit yang semakin menghitam. “Chelsea, ayo masuk cepat ! ayo masuk, nanti kau kehujanan!” teriakku lagi. Ia tetap berada di tempat yang sama, memandang langit yang sama, tanpa satu suara yang keluar dari mulutnya. Entah apa yang ia lakukan, aku hanya takut ia kehujanan. “ Chelsea, ayo masuk!” teriakku lagi untuk kesekian kalinya. Aku melambaikan tanganku berulang kali untuk mengajaknya masuk ke dalam rumah. Tapi dia tetap terdiam, tak bergerak satu langkah pun, dan masih memandang langit yang sama.
Dan akhirnya butiran- butiran hujan membasahi tubuhnya. Ia berlari kesana kemari seakan menikmati indahnya hujan. Seolah-olah aku baru saja melihat seorang anak kecil yang sedang bergembira karena hujan datang. Ia tampak sangat bahagia, dan lebih bahagia dari biasanya. Tetapi entah kenapa, firasatku berkata lain. Aku tak tahu apa yang ada dipikiranku sekarang, aku hanya merasa takut. Takut untuk kehilangan. Kehilangan untuk yang kesekian kalinya. Aku ingat betul saat saat seperti ini, satu tahun yang lalu. Saat hujan datang lebih deras dari biasanya. Saat dimana aku mengetahui kalau Chelsea mulai rapuh. Ya, aku tau dia sudah mulai menempuh masa tuanya. Tapi tak sedikitpun aku melihatnya tampak seperti seseorang yang sengsara dalam masa tuanya. Dia selalu tampak ceria, selalu setia menyambutku saat aku pulang, dan selalu setia menungguku. Walau terkadang ia sangat menjengkelkan. Pernah suatu kali, ia duduk mendekatiku lalu mengambil buku harianku yang berada tak jauh dari tempat aku duduk. Ia mengambilnya dan kemudian menyembunyikannya di suatu tempat yang tak kuketahui. Sempat aku memarahinya,sempat juga aku memukulnya berulang kali, terkadang bukan dengan tangan tapi dengan kertas koran. Tapi kau tahu? Dia malah duduk didepanku lalu memiringkan kepalanya sambil memandangiku dengan wajah yang memelas. Ya, wajah itu memang jurus terjitu untuk meluluhkan hatiku. Walaupun sampai sekarang aku masih jengkel ketika mengingat hal itu.
Malam ini aku dan Chelsea hanya berdua di rumah. Hujan masih setia menemani malamku. Aku duduk di kursi dekat jendela sambil mengerjakan beberapa tugas yang harus dikerjakan malam itu juga. Sesekali aku melihat Chelsea yang tidur di sudut ruangan. Kuambil selimut yang biasa ia pakai untuk menghangatkan tubuhnya. Tak lupa kuambilkan beberapa makanan kesukaannya. Kuletakkan semua itu disamping tubuhnya, dengan penuh harap ia mau memakannya walau hanya secuil saja. Sampai akhirnya, aku terlelap dalam bunga tidurku.
Esok harinya, Chelsea membangunkanku. Sang surya juga menyapaku dengan senyum indahnya, burung burung berkicau lebih indah dari biasanya, dan embun pagi sudah mulai menipis. “pagi Chel.” Kataku sambil tersenyum memandanginya. Ia hanya terdiam lalu duduk disampingku sambil berusaha mendekatkan tubuhnya ke arahku. Entah kenapa, ini tampak sangat berbeda dari biasanya. Dan lagi lagi, firasat buruk itu muncul. “ah, mungkin Chelsea hanya ingin lebih dekat denganku.” Pikirku untuk sedikit menghilangkan rasa khawatirku. “ Chel, aku mandi dulu ya.” ucapku pada Chelsea yang masih duduk terdiam tanpa kata.
Dan kau tahu? Firasat itu benar. Ketika aku selesai mandi, aku segera menuju ke kamarku untuk segera berangkat ke sekolah karena hari ini ada ulangan 2 mata pelajaran yang sama sama hafalan. Tapi sampai di pintu kamarku, kulihat buku harian yang waktu itu sempat hilang karena diambil oleh Chelsea. Kubuka halaman paling belakang buku itu, tampak foto dan tulisan yang sama masih tertulis disitu. Tulisan itu “ Aku Sayang Chelsea” ada fotoku dan Chelsea disitu. Disamping buku harian itu Chelsea terbaring dengan posisi mata tertutup, aku berpikir dia tidur. Tapi saat kupanggil namanya berulang kali, ia tidak merespon. “ Chelseaaa!!!!!!” teriakku untuk terakhir kalinya sehingga semua seisi rumah menghampiriku. Dan sampai pada akhirnya seseorang  berkata “ Chelsea sudah tidak ada disini.”. entah apa yang aku rasakan saat itu, semua materi yang seharusnya  sudah hafal seketika hilang terganti oleh beberapa kenangan bersama Chelsea.
Andai saja kau tahu, Chelsea adalah anjing yang sangat berarti dihidupku. Dia lebih dari sekedar anjing peliharaan. Sudah bertahun tahun ia menemaniku, dari ia kecil sampai ia pergi meninggalkanku untuk selamanya. Dia anjing terhebat yang pernah aku temui. Kau tahu? Aku bisa sekolah karenanya. Kog bisa? Maksudnya bagaimana? Banyak orang selalu bertanya hal yang sama padaku. Dan sekarang, aku akan menjelaskannya padamu. Chelsea hampir setiap tahunnya beranak kira kira 4 sampai 5 ekor anak anjing. Dan anak anjing itulah yang selalu dijual dan hasilnya untuk bayar uang sekolah. Bagaimana dengan gaji orang tua? Gaji orang tua cukup untuk kebutuhan sehari hari dan sisanya ditabung untuk uang cadangan kalau ada keperluan mendadak. Ayahku selalu berkata padaku begini “ kamu bisa sekolah karena anjing, kamu bisa naik motor ya karena anjing, makanya hewan itu jangan dimarahi, hewan itu juga perlu kasih sayang, dia sudah berusaha menyenangkan kamu, sekarang apa balasanmu?”
Disisi yang lain, sempat aku berpikir, seorang manusia yang selalu berbicara tentang rasa berterima kasih dan setia saja belum tentu bisa berterima kasih dan setia pada orang lain. Tapi kenapa hewan sekecil ini bisa membuatku mengerti kalau kau harus lebih setia daripada seekor anjing. Chelsea yang terkadang sering kupukul karna jengkel, sering aku memarahinya, tapi ia tetap membangunkanku tiap pagi, menyambutku dengan ceria, dan kau tahu? Tak pernah sedikit pun ia menyakitiku walau aku sering membuatnya terluka. Masih ingat cerita Hachiko yang menunggu tuannya pulang di sebuah stasiun selama 9 tahun? Lalu apa yang kau dapat dari cerita itu? Belajar setia. Setia ! setia ! dan setia !. Ya, sekarang tanyakan pada hatimu. Apakah kau sudah lebih setia dari seekor anjing? Atau malah kau masih kalah dengan hewan itu? Jika belum, mulai belajar setia dalam perkara yang kecil dari sekarang karena kau harus lebih setia daripada seekor anjing…

Jumat, 17 Oktober 2014

Rindu


" I want you to miss me, like I'm missing you.."
Bukankah hal yang bodoh bila merindukan seseorang yang belum tentu merindukan kita juga? dan bukankah hal yang tak wajar bila hanya merindukan tawanya? bukankah biasanya yang  dirindukan adalah keberadaannya untuk kita?tapi kenapa? kenapa hal yang berbeda terjadi padaku?
Aku merindu. Ya, aku memang rindu, tapi aku tak rindu wajahnya, keberadaannya, aku hanya rindu satu hal. Aku rindu suaranya.
Suara yang selalu menghiasi malam indahku. suara yang selalu menenangkan hati, suara yang selalu memberi semangat untuk selalu berjuang, suara yang selalu menyanyikan lagu dengan nadanya yang indah. Suara yang selalu membuatku mengerti.
Mengerti tentang kehidupan, mengerti tentang usaha dan doa, mengerti tentang suatu keikhlasan hati, mengerti betapa indahnya dikasihi dan mengasihi.
Ini aku.Di sini.
Masih menatap bintang yang sama. Bintang yang pertama kali mempertemukanku dengannya. Bintang yang slalu hadir saat aku sendiri.
Rasanya aneh bila bintang itu tak berada ditempatnya.Sama sepertiku, rasanya tak wajar bila aku tak merindukan sesosok malaikat yang baik adanya.
Aku tahu. Dia tak mungkin merindukanku seperti aku merindukannya.
Mungkin berhari-hari, bertahun-tahun, tak cukup bila hanya merindunya. Mungkin suatu saat nanti, disaat yang tepat nanti. Di mana semua keinginan telah tercapai. Dia akan kembali. Kembali untuk menceritakan semua. Semua yang dapat menyembuhkan rasa rinduku.
Aku di sini, dan tetap di sini untuk merindu dan menunggunya.

Kamis, 16 Oktober 2014

Catatan Kecil Tentang Wanita Tegar


Hari ini.
Ketika senja mulai datang, datang dengan beberapa kawannya yang mengingatkanku pada memori dua tahun yang lalu. Angin yang berhembus, berhembus dengan cepatnya. Air yang membasahi setiap sudut halaman rumah, dan suasana hening yang ada seakan tahu apa yang sedang aku pikirkan saat ini. Mereka mampu membawaku kembali dalam arus nostalgia.
Tepat dua tahun yang lalu, ketika aku masih sering duduk di salah satu bangku taman sekolah. Masih sering memandangi indahnya alam, masih sering bertingkah layaknya anak kecil tanpa dosa. Aku melihat seorang perempuan yang duduk dengan wajah yang muram sambil memegang sebuah foto. Di dalam foto itu, ada satu wanita dan satu balita dengan wajah yang imut. Perempuan itu sebaya denganku. Entah berapa lama aku memandanginya sehingga ia mulai tersadar dan mendekatiku. Belum sempat aku bertanya apa yang sedang terjadi dengannya, air matanya turun menghiasi setiap sudut gelap matanya.Ia mulai bercerita tentang kisah hidupnya padaku, kisah hidup yang selama ini selalu menghantui kehidupannya yang sederhana.
Dia.
Dia yang tinggal dalam sebuah keluarga kaya raya tetapi tak pernah bahagia. Dia yang selalu butuh perhatian tapi tak pernah diperhatikan, dia yang selalu ingin dimanja tapi pernah dimanja, dia yang selalu ingin merasakan kasih sayang tapi tak pernah diberi kasih sayang, dia yang selalu mencoba tegar dalam hidupnya tapi tak pernah ada seorang pun yang peduli padanya.
Dia yang mencoba bertahan saat keadaan dalam hidupnya mulai tak terkendali lagi. Berawal dari ibu yang dikasihinya meninggalkan dia untuk selama lamanya, sampai ayahnya yang harus terjerat dalam kasus narkoba.Bagaimana jika itu berada dalam posisimu? Akankah kamu dapat menerima segala keadaan itu? atau malah kamu frustasi lalu memilih untuk mengakhiri hidupmu? atau kamu malah menyalahkan Tuhan? aku rasa pertanyaan itu hanya kamu sendiri yang tahu jawabannya. Yang aku tahu, aku kagum padanya. Walaupun beban yang ada dipundaknya terasa berat, ia tak pernah sekalipun berani menyalahkan Tuhan, dia tetap bersyukur dan berdoa kepada Tuhan, dia juga tak pernah menampilkan wajah yang penuh kesedihan karna beban yang dialaminya. ya, dia menutupi segala beban yang dialaminya dari orang-orang yang ada di sekitarnya. Pernahkah kamu berpikir betapa sulitnya menyimpan beban dan menyembunyikannya dari setiap orang yang berada di dekat kita, termasuk sahabat kita sendiri? menyembunyikan semua itu tak semudah saat kamu membalikkan telapak tangan, tak seringan saat kamu memegang kapas.
 Dia.
Dia adalah orang yang paling tegar yang pernah aku temui. Jujur saja, dari sekian banyak orang yang bercerita padaku, baru kali ini aku bisa ikut meneteskan air mata saat dia bercerita tentang kisah hidupnya. Entahlah, yang kupikirkan saat itu hanyalah satu hal, dia dan segala daya yang ia punya, dengan segala cara yang telah berulang kali ia coba walaupun tahu semua itu takkan dapat mengubah semua yang terjadi dalam hidupnya, ia tetap bisa menjalani hidupnya seolah tak terjadi apa apa, tersenyum seolah tak pernah mengenal apa itu menangis, dan satu hal yang ia katakan di akhir ceritanya.
" Kamu tidak akan pernah tahu setegar atau sekuat apakah kamu, jangan pernah menyalahkan Tuhan, karna Tuhan takkan pernah memberikan cobaan melebihi batas kemampuanmu.Keep strong ! your life is a grace !"

Sabtu, 04 Oktober 2014

Weakness



You can find on your self
Though you're look like the star
That can't reach with everyone
With the truly of your dreams
There is still a little weakness...

On the hardest way
Of their life, I know...
So many the high dreams
Just trust me, you can do it !
Wiith every weakness you have.

We are the same person.
And a lot of common
But you know, just different mind..
Always look at the top
And always look at the bottom...

Without weakness you're nothing.
Because life is always respect
We are the winner of everything
There's not an arrogant in our soul
Start from weakness to beginning our dreams....

Sabtu, 09 Agustus 2014

Orang Tuaku Sahabatku ?

"Ayah Ibu membatasi kebebasanku, begini gak boleh begitu gak boleh. Ortuku menganggapku masih kayak bocah, mirip kamera CCTV yang selalu mengawasiku 24 jam nonstop!! Mereka gak pernah puas dengan apa yang kulakukan, yang kulakukan selalu saja salah di mata mereka. Ibuku selalu ngomel seperti CD rusak, capek dengernya. Ayahku protektif, ibu terlalu mengontrol, mereka seperti gak percaya kepadaku. Ortuku terus menerus mengajariku hal hal yang sudah aku tahu, mereka memperlakukanku seperti aku bodoh."

Apakah kamu punya pengalaman seperti beberapa komentar diatas? jika ya, sebenarnya kamu punya ortu yang normal. Gak usah khawatir, karena kebanyakan anak muda juga mengalaminya. Gimana supaya perang dingin antara kamu dan ortumu gak berlanjut? gimana bikin hubungan kamu dengan ortu menjadi lebih hangat? gimana jadiin ayah ibu gak sekedar sebagai ortu tapi juga sahabat?
Sebelumnya kita harus memahami lebih dahulu kenapa ortu bersikap seperti di atas. Selama kita gak memahami alasan mereka, selamanya kamu menganggap ortumu jahat, gak asyik, dan menyebalkan.
Walau gak mudah memasuki masa remaja, yang notabene akan banyak penyesuaian sana sini, plus seabrek masalah, hal yang sama juga terjadi pada ortu. Yup, menjadi ortu dari anak remaja juga gak kalah berat. Mereka punya masalah lebih banyak, mengalami stres, khawatir, dan tanggung jawab lebih besar. liat betapa besar beban dan tanggung jawab yang ortu kamu pikul . Dengan cara ini, kamu bakal lebih menghargai ortu kamu.
Ini yang dilakukan ortumu....
  •  Karena kamu bertambah besar, kebutuhan keluarga berarti bertambah banyak. Akibatnya, ortu bekerja lebih keras untuk bisa mencukupi kebutuhan yang semakin banyak.
  • Ortu akan berusaha cari uang lebih banyak agar kamu bisa masuk ke sekolah terbaik, meski untuk itu mereka harus mengeluarkan biaya yang sangat besar.
  • Ortu harus bayar berbagai cicilan dan tagihan.
  • Ortu berupaya kamu gak minder saat gaul sama teman teman, karena itu mereka berusaha kasih uang jajan cukup, beliin baju,gadget, atau hal lain yang kamu pake untuk sosialisasi dengan teman temanmu. padahal dananya gak sedikit kan?
  • Ortumu barangkali udah mulai punya masalah kesehatan, tapi kerap kali mereka menganggap gak terjadi apa apa supaya bisa tetap bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga.
  • Ortumu kerap cekcok. Tau gak, 80% cekcok itu karena soal uang?
  • Beberapa ortu punya tanggung jawab terhadap ortu mereka ( Kakekmu / Nenekmu ), terutama merawat mereka.
Setelah kamu paham besarnya pergumulan, masalah, dan tanggung jawab ortumu, mestinya kamu bisa bayangin beratnya jadi ortu. kamu punya banyak waktu buat dirimu, hobi dan kesenanganmu, main sama teman, tapi waktu mereka kebanyakan habis buat kerja dan mengatur rumah, agar kamu bisa tetap aman dan senang.
Tau gak kekhawatiran terbesar mereka ? itu adalah....KAMU !! Karena mereka begitu cinta dan peduli sama padamu. Meski kadang cinta mereka disampaikan dalam bentuk kedisiplinan, marah, omelan, aturan, larangan, dsb. Mereka khawatir kalau kamu gak belajar serius, kamu gak survive di dunia nyata yang persaingannya begitu ketat. Mereka khawatir kalau kamu terlalu bebas, kamu bisa terjerumus kepada pergaulan buruk yang nantinya menghancurkan masa depanmu. Mereka khawatir kalau kamu memiliki masa depan suram, karena itu mereka berusaha sekuatnya untuk melakukan yang terbaik untuk kamu. Hal hal ini bikin mereka terlihat sok ngatur, protektif,suka ngomel, dsb. Mestinya kamu tahu kalau mereka melakukan semuanya itu untuk kamu.
Emang sih ortu melakukan semuanya itu karna care. tapi apa gak ada cara lain selain ngomel, marah, banyak ngatur? Mau ortu berubah? It depends on you !! Ketika kamu ngamuk ngamuk terus, kamu nunjukin kalo kamu kekanak- kanakan, makanya ortu ngatur kamu terus dan memperlakukan kamu seolah kamu anak anak. Ketika kamu susah nurut , kamu menunjukkan kalo kamu gak bisa dipercaya. Makanya ortu ngawasi bak CCTV 24 jam ! Ketika kamu males, kamu menunjukkan kalo kamu gak tanggung jawab, maka mereka ngomel supaya kamu lebih disiplin. Ketika kamu bohong, kamu sedang menunjukkan kalo kamu gak jujur. Makanya ortu protektif, supaya mereka tahu keadaanmu yang sebenarnya. Mau ortu berubah? Kamu sendiri harus berubah lebih dulu !!

Senin, 30 Juni 2014

Mimpi


 " It's great day... When I can see your smile in my dreams.. :') "
Dia.
Orang yang dulu takkukenal. Takkukenal senyumnya, wajahnya, namanya, sampai sifatnya. Kini telah menjadi segalanya. Entahlah, aku tak tahu kenapa itu terja. Sebuah pertemuan singkat dan perhatian yang mengawali semua itu. Perhatian yang belum pernah aku dapatkan kecuali dari ayahku sendiri. Perilaku itu.
Aku tak tahu kenapa ia melakukannya, sikapnya yang dewasa, bertanggung jawab, sopan, ramah, kegigihannya, ketaatannya. Seolah menghipnotis pikiranku menjadi teramat kagum dan terpesona padanya. Bukankah terlalu sempurna untuk dimiliki oleh seorang wanita yang berparas sederhana sepertiku?
Tapi.
Aku suka caranya. Caranya membuatku tersenyum bahagia, caranya memperhatikanku, caranya menghargai perempuan, caranya memainkan beberapa alat musik yang penuh dengan irama dan melodi.
Tapi.
Lagi lagi aku bepikir. Seberapa pantaskah aku memilikinya? memiliki yang jelas berada jauh denganku. Seberapa pantaskah aku mengaguminya? mengagumi yang jelas mengagumi yang lain. Seberapa pantaskah aku merindukannya? merindukan yang jelas tak pernah merindukanku. Dan seberapa pantaskah aku. Jika aku memimpikannya?? memimpikan yang jelas tak pernah memimpikanku.
Memandang wajahnya yang cerah, matanya yang selalu memancarkan pelangi, senyumnya yang selalu berhasil membuat semua orang ikut tersenyum besamanya. Terasa sangat indah walau hanya dalam mimpi. Mimpi yang terkadang membuatku lupa siapa aku sebenarnya di dunia nyata.
Aku tahu.
Itu takkan mungkin pernah pantas, aku masih tahu diri, aku tak bisa memilikinya, yang aku tahu, walaupun sampai akhirnya dia memang hanya ada dalam mimpiku. Sampai kapan pun, dia takkan pernah terganti.
Kini aku berharap dapat mengaguminya walau dalam mimpi. Ketika aku terbangun dari mimpiku, dia menjadi orang pertama yang membuatku tersenyum, tersenyum karna aku masih bisa melihatnya dari kejauhan tanpa satu orang pun yang tahu.

Things Will Get Better

 
I'm the one that's always been here
Even through the darkest nights
And brave the tide
For you and me

All I ever needed was you
You never have the worry at all
What happened to us
What happened to love

Every step seems just a little better
Your mistakes don't really seem to matter
I want that going OK.
As long as I got you and you got me

I've been saying to myself be stronger
Like work it out; it's gonna take a little bit longer
As long as I got you, you got me, you say
Things will get better

A mirrors now would've been so clear
Every shadow like a broken glass
Can we mend the past
With me and you

Maybe I should face the truth
I need you to be what I know you can be
Don't give up on us
Don't give up on love

Every step seems just a little better
Your mistakes don't really seem to matter
I want that going OK
As long as I got you, and you got me

I've been saying to myself be stronger
Like work it out; it's gonna take a little bit longer
As long as I got you, you got me, you say
Things will get better

Jumat, 09 Mei 2014

Karena Senyuman





Ini kisahku,  kisah yang terkadang teramat sulit untuk kuceritakan..
Aku Renata,biasa dipanggil Rere, anak kelas dua SMA favorit di Jakarta. Terlahir dalam keluarga yang sederhana. Anak dengan rambut hitam dan bergelombang, berkulit hitam, tinggiku pun bisa dibilang tinggi tapi bisa juga dibilang pendek. Aku tak cantik, tak kaya, tak pandai dalam bidang olahraga, dan aku terkadang iri pada teman temanku yang punya orang tua yang kaya raya…
Entahlah, tapi ini yang kurasakan.. selalu dibanding bandingkan dengan temanku yang lain, dimarahi setiap aku melakukan satu kesalahan, hidup dalam berbagai peraturan yang terkadang membuatku merasa tertekan. Seakan hidup dalam belenggu penjara. Ya tapi inilah hidup..
Beruntung aku mempunyai sahabat yang slalu menyemangatiku..dia Fransisco, cowok terganteng  di sekolah, tajir, ramah,tinggi, pintar dalam berbagai hal terutama hal music, dia jagonya.. ya, bisa dibilang banyak cewek ngantri buat jadi pacarnya, tapi sayang dia masih jomblo sampe sekarang. Entah kenapa ketika ditanya kenapa dia masih jomblo sampe sekarang dia slalu diam seribu bahasa. Ya , walau kadang dia suka jail tapi aku….
“WOYYY..!!! ngelamun aja,entar kesambet loh,” teriak Frans membuyarkan lamunanku.
“ih, apaan sih, kaget gue bisa bisa gue jantungan nih, jail banget sih,”
“hehe,iya deh mangap, senyum dong entar mataharinya nangis trus gak mau muncul gara gara gak liat senyum kamu, “ katanya merayu.
“ah, apaan sih Frans udah deh, gue udah kebal sama gombalan gitu. Nih nih senyumnya,” kataku sambil tersenyum melihat Frans.
Dia hanya tersenyum lebar, menatapku tajam seakan ada yang salah ketika aku tersenyum.  Jantungku berdetak sangat kencang. Entah kenapa ini terjadi, aku tak mengerti kenapa ada yang lain ketika aku menatapnya..
“hey, kamu cantik kalo kayak gitu, tapi .. lebih cantik lagi kalo mau traktir gue..” katanya dengan memalingkan wajah ke salah seorang cewek yang tengah duduk di bangku taman sekolah.
“yah, itu sih mau lo, eh, ada Loly  tuh kayaknya tipe lo deh,deketin sana siapa tau bisa nyantol. Ya, itung itung biar gak  forever alone kayak gini..”

%%%

Mulai saat itu, aku berusaha mencarikannya seorang cewek yang tepat untuknya. Mulai dari telpon teman sana sini untuk diajak  kencan si Frans sampe tukang parkir cewek tua depan sekolah diajak kencan juga. Tapi semua gagal, dia tetap jomblo. Dan aku sendiri sudah punya pacar.
“ Frans, udah semua cewek  temen gue udah lo kencanin,masak gak ada yang nyantol satu pun? usaha gue gagal dong.. gue sampe bingung sama jalan pikiran lo, lo tajir, lo tinggi, lo ganteng, lo taat sama Tuhan, apa lagi yang belum perfect,hah???!!!” bentakku.
“ udah bicaranya, udah selesai marah marahnya?? Gue muak Re !!!, gue gak mau lo jodohin gue punya pilihan sendiri, gue udah suka sama seseorang tapi sayang orang itu gak pernah tau yang namanya peka !!!”
“ kalo lo punya pilihan seharusnya lo…”
“STOPPPP, dia udah punya yang lain Re, gue gak mau ganggu hubungannya. Mendingan lo pergi dari sini sekarang.Gue mau sendiri.” Bentak Frans  untuk yang pertama kalinya aku lihat..
Sakit.. ya amat sakit untuk dirasakan. Kenapa? Apa aku salah bila aku ingin membantu temanku sendiri??? Kenapa? Kenapa aku selalu salah dimata semua orang???!!! Tanpa terasa air mata tlah menhiasi sudut sudut gelap mataku..

%%%

Saat di sekolah..
Semua berubah, yang dulunya ketika aku duduk sendiri selalu ada Frans yang selalu membuat gombalan yang kadang membuatku tertawa lebar. Kini semua terbalik seratus delapan puluh derajat. Frans berubah cuek, ketika melihatku pun ia memalingkan wajahnya. Dan sekarang dia dekat dengan Loly. Aku turut senang ketika mengetahui mereka dekat mungkin sebentar lagi  Frans akan melepas status jomblonya.Tapi kenapa sebagian hatiku terasa amat sakit ketika melihat Frans dengan Loly? Apa aku…
Seminggu setelah itu,..
Aku putus dengan pacarku. Entah , hanya ada sakit disini.. dalam hati ini..ditinggal Frans, diputus pacar.. argghhhhh, kenapa rasanya hidupku penuh dengan cobaan yang berat????!!!!  Hanya lewat tetesan air mata aku meluapkan keluh kesahku. Karna aku.. aku tak pernah bisa meluapkan lewat apapun kecuali dengan air mata ini.
“ini, buat kamu..” kata seorang cowok dibelakangku sambil menyerahkan sekotak tissue.
“ Franss, itu elo kan?? Frans gue kangen elo, elo yang selalu ada buat gue, gue gak mau kehilangan lo sama kayak gue kehilangan pacar gue, gue gak mau kehilangan lo untuk kedua kalinya Frans…” kataku sambil memeluk erat Frans. Dan seketika itu juga, tangis gue tumpah dipelukan itu..
“hey, lo pikir gue gak capek apa bersikap cuek  sama lo. Gue … gue  juga kangen lo..udah nih ada tissue dilap dulu tuh gak enak kan diliatin orang. Lagi pula nanti baju gue juga basah lagi gara gara lo”
“ihh, Frans apaan sih, thanks ya,eh, lo jadian ya ma Loly?? Ciiiyyyee..”
“lohh lohh.. suasana lagi kayak gini masih aja mikirin cewek, ckckck.. gue gak ada hubungan apa apa kog ma dia. Lagi pula gue masih ngincar cewek gak peka itu, eh bentar deh, lo cemburu yaa?? Hayooo??? ketahuan deh, haha” ucapnya sambil menunjukku.
“ haha, ya enggak lah, masak gue cemburu sama lo it’s impossible,”
Jawabanku sejenak membuat suasana hening. Dia menatapku tajam dan lebih tajam dari biasanya.. entah tapi kali ini kayaknya emang beneran salah omong..sekitar 30 menit tidak ada satupun diantara aku dan dia yang mengeluarkan sepatah kata. Tak lama kemudian, frans memegang tanganku..
“Re, besok gue mau pindah ke China..  gue harus ikut ayah gue disana, maaf Ree gue baru bilang sekarang..dan gue tau mungkin gue gak akan kembali kesini lagi karna gue mau menetap disana..maafin gue ya Rere, lo orang yang paling mengerti gue..besok gue berangkat jam 7,” kata Frans perlahan.
Kata kata itu..
Aku hanya bisa menghela napas panjang, mataku tampak berkaca kaca.. tak ada sepatah dua patah kata yang dapat terurai dari mulutku. Rasanya seperti ditutup dengan selotip besar dan tebal sehingga tak bisa bicara..
Melihat hal itu, Frans tersenyum. Tersenyum yang lebih lebar dari biasanya.. senyum yang lebih tampak manis dari biasanya, aura tampan yang membuatku terlena..hilang seketika..

%%%

Esoknya pukul 06.55….
“ biarlah biarlah hariku dan harimu terbelenggu satu oleh ucapan manismu…”
Dering sms terdengar keras pagi itu.. tapi aku masih tertidur pulas. Entah kenapa rasanya mata ini tak enak untuk melihat karna bengkak gara gara nangis semalam suntuk..dering itu terdengar 3 kali dan aku belum bangun juga..
Sampai pukul 08.00 aku terbangun dengan mata yang sudah mendingan..terlihat 3 sms dari Frans..kubaca sms pertamanya..
“ Rere, selamat pagi temanku yang cantik..pasti kamu baru bangun kan? Ya, setidaknya aku mau ngucapin slamat tinggal walau gak bisa bicara langsung lewat telepon karna takut ganggu si cantik yang lagi tidur, byee :D “
Aku pun membalas sms itu,..
“haha,iya baru bangun nih, bye ganteng..gak bakalan kangen kog paling rindu sama gombalanmu itu..haha, byee ganteng atu atu yak :D”
Aku pun keluar kamar dan menuju ruang keluarga . disitu ada mama yang sedang nonton berita. Aku pun duduk sambil ikut melihat tv. Dan secara tiba tiba…
“ Pemirsa setia. Baru saja ada kabar tentang jatuhnya pesawat penerbangan Indonesia – China pada pukul 07.30. pesawat itu terjatuh di laut China sampai sekarang masih dilakukan pencarian.sekian sekilas info hari ini. Salam Redaksi”
Aku terperanjak dari sofa yang aku duduki..segera kulihat 2 sms Frans terakhir..

“ Re, mungkin ini pesen terakhir gue sama lo, lo harus jadi cewek yang kuat karna gue sekarang udah gak bisa ngelindungin lo kayak dulu lagi. Lo harus banyakin senyum. Karna senyum lo hari hari orang lain bisa berubah jadi berwarna, dan waktu lo senyum lo cantik..canttiiiikk banget kayak bidadari, gue gak lagi gombalin lo, gue serius..dan gue mau ngomong satu hal sama lo..”


Air  mataku kembali membanjiri pipiku..entah, apa aku masih kuat untuk membaca sms terakhir Frans?? Atau aku tak membaca dan membiarkan rasa penasaranku ini menggantung begitu saja?? Kubuka perlahan dan isinya..

“ Rere, sorry dulu gak berani ngungkapin ini sama lo. Karena setiap rayuan gue lo slalu anggap becandaan. Tapi  jujur gue akuin itu gak becanda dan itu serius. Rere..Renata, gue suka sama lo, gue sayang sama lo, dari awal gue ketemu sama lo,, Re, I love you..”


Air mataku buyar ketika kata kata itu aku baca..air mata ini bukan lagi air mata biasa.. air mata ini turun dengan derasnya seperti hujan dengan angin dan petir yang selalu menyambar disetiap titik sudutnya…
“Frans..kenapa?? kenapa lo baru ngomong sekarang..gue juga suka sama lo !!! gue sayang sama lo !!! gue suka gombalan lo, senyum lo, semua yang ada pada lo !!! tapi kenapa Frans, lo pergi secepat ini???!!!! Tanpa pernah jadian…kenapaaaa????!!!”

%%%

Setelah kejadian itu,
Aku bertemu dengan cowok yang bisa dibilang sifatnya hampir mirip dengan Frans, namanya Reval.. tapi Frans tetap sahabatku yang takkan pernah terganti posisinya di relung hatiku..
Dan aku lebih sering melihat ke atas. Melihat Frans di langit langit malam yang bertabur bintang. Berharap Frans adalah salah satu dari bintang itu..
            Aku mengerti..mengerti kalau aku harus menjadi Renata yang selalu murah senyum lebih dari biasanya, lebih kuat dari biasanya, lebih tegar dari biasanya.. karna aku tau Frans akan sangat senang. Ketika dia tau sahabatnya ini berubah menjadi gadis yang banyak disukai orang  karena dia..tetap sahabat karibku…
Dan jika aku diberi kesempatan untuk memohon dan doa itu terkabul. Aku ingin berkata, aku mau memilki sahabat seperti Frans  sekali lagi…
 
Aalona's Blogger Template by Ipietoon Blogger Template